Srikaya (Mulwa) Anti Kanker dan Gagal Ginjal

Buah mulwa atau sering dikenal dengan nama buah nona (annona reticulata) atau srikaya berpotensi dimanfaatkan untuk obat antikanker dan gagal ginjal, kata dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr. Hamidah, MKes.

“Hasil penelitian menunjukkan buah mulwa atau buah nona mengandung senyawa acetogenin untuk antikanker dan alkaloid untuk mengatasi gagal ginjal,” katanya usai ujian terbuka promosi doktor program pascasarjana di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sabtu (31/10).

Menurut dia dengan adanya kandungan senyawa acetogenin dan alkaloid menjadikan buah tersebut sebagai salah satu komoditas pangan yang bernilai lebih dan berpotensi dimanfaatkan untuk kesehatan masyarakat.

“Namun menurut dia buah mulwa atau buah nona sekarang mulai sulit dijumpai karena tidak banyak lagi ditanam, padahal buah tersebut merupakan tanaman yang tergolong dalam “genus annona” yang berasal dari daerah tropis dan memiliki kekerabatan dengan buah sirsak (annona muricata) dan srikaya (annona squamosa),” katanya.

Ia mengatakan semakin langkanya buah mulwa atau buah nona karena banyak orang yang kurang begitu menyukai rasa buahnya, serta jumlah panen buahnya relatif sedikit dalam satu pohon.

“Buah mulawa atau nona jarang ditanam, karena rasanya memang kurang enak. Namun buah itu mengandung bahan aktif bermanfaat, dan jika masyarakat menyadarinya justru bermanfaat untuk kesehatan,” katanya.

Menurut dia mengonsumsi buah-buahan dari alam sangat bermanfaat untuk menangkal berbagai penyakit dengan bertambahnya usia. “Jika kita kembali ke alam akan selamat, karena usia bertambah tua, maka perlu makanan yang sehat,” kata lulusan doktor ke-1.037 dari UGM itu.

Dalam kesimpulan disertasinya yang berjudul “biosistematika anona murricata L., annona aquamosa, dan annona reticulata dengan pendekatan numerik” diketahui variasi karakter fenotipe buah sirsak, srikaya, dan buah mulwa (nona) pada habitat yang berbeda.

“Namun hal itu tidak diikuti perubahan variasi karakter genotipe dan kedudukan takson berdasar kandungan alkaloid dan flavonoid,” katanya. YOGYA (KRjogja.com)

(Ant/Mdk)

Dipublikasi di Srikaya | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Dari Juragan sampai Doktor Bibit

Tanah seluas 1.000 m2 di tepi Jalan Raya Sentul, Bogor, itu saksi perjalanan hidup Eddy Soesanto. Dua kali ia diancam hengkang dari sana. Berbulan-bulan ia menyetor ‘uang sangu’ pada oknum berseragam. Ia pun mesti selalu siap baku hantam dengan para pemalak. Kalau saja ketika itu Eddy gentar, omzet Rp1,19-miliar tidak bakal pernah masuk ke rekeningnya.

Pertengahan 2005 memang jadi ‘masa suram’ buat kelahiran Jepara itu. Padahal ia baru saja berbulan madu dengan lengkeng. Di kantongnya sempat ada Rp150-juta hasil penjualan 1.500 bibit lengkeng pingpong selama 3 bulan pada 2004. Mata jeli Eddy menemukan bibit lengkeng jumbo itu di Karawang pada 2003. Ketika itu dari ujung pucuk bibit setinggi 50 cm muncul 3 buah seukuran bola pingpong berwarna cokelat kemerahan.

‘Ini lengkeng istimewa,’ ahli desain interior itu membatin. Musababnya Dimocarpus longan itu berbuah di Karawang yang dataran rendah dan panas. Sifatnya pun genjah. Sejak itu setiap minggu -sembari mengurus proyek taman- Eddy membawa bibit ke Jakarta. Bibit dibesarkan dan diperbanyak di nurseri Arumdalu-kongsiannya dengan seorang teman. Alumnus Institut Seni Indonesia, Yogyakarta yang senang tanaman itu yakin suatu saat lengkeng pingpong bakal populer.

Geger

Prediksi Eddy tepat. Lengkeng berdaun melengkung dan berbatang nglancir asal Vietnam itu menjadi tanaman buah paling diburu pada 2004. Ketika itu dunia perbuahan geger mendengar lengkeng berhasil dipanen di dataran rendah dan berumur genjah. Seluruh stok di kebun Arumdalu pun ludes dibeli konsumen.

Lantaran penyedia bibit masih jarang, harga lengkeng pingpong mahal: Rp100.000-Rp125.000 per batang. Eddy pun ketiban untung. Total jenderal selama hampir 2 tahun terjual 4.000 bibit. Nilai omzetnya Rp400-juta.

Sayang, pria 43 tahun itu kemudian mesti berpisah dengan Arumdalu. Maka dimulailah masa-masa suram di Sentul. Aset sebesar 40%-sebagian berupa bibit-di Arumdalu dengan tergesa-gesa dipindahkan ke sebuah tanah kosong di pinggir jalan. Namun, di sana Eddy tak bisa membesarkan bibit menjadi indukan karena takut sewaktu-waktu digusur.

Dewi Fortuna menyambangi ketika seorang teman meminjamkan lahan seluas 2.000 m2 di Cijantung, Jakarta Timur. Berbarengan dengan itu, dari kawan lain Eddy mengenal buah tin Ficus carica yang tercatat di 2 kitab suci: Al Qur’an dan Injil.

Mesti beda

Naluri bisnis Eddy langsung terusik. Dalam hitungannya, jika dikemas sebagai buah religi, tin bakal jadi buruan kolektor. Sayang, bibit yang ditunjukkan sang kawan tidak dijual. Pantang menyerah, pria berkumis itu keluar-masuk kebun pembibitan di berbagai daerah. Kebun raya, wihara, dan pesantren pun tak luput menjadi tempat pencarian.

Akhirnya dari Puncak, Cianjur, ia mendapat 6 ara hibrid: negrone, black ishia, conadria, flanders, long yellow, dan panachea tiger. Sekali lagi perhitungannya tepat. Dari ara Eddy mendapat untung berlipat-lipat. Dari negrone saja ia mendulang Rp35-juta hasil penjualan 100 bibit selama 3 tahun.

Berkat tin, awan mendung pun mulai tersibak. Eddy menemukan formula pas untuk melanggengkan bisnis bibit buah: pilih jenis berbeda dan unggul. Sumbernya dari lokal, bahkan mancanegara. Resep itu ternyata manjur. Dari lengkeng pingpong, diamond river, dan itoh-asal Vietnam dan Thailand; miracle fruit; srikaya new varietas-dari Australia, dan ara kocek lelaki gempal itu bertambah tebal.

Dari perniagaan sepanjang 2007 ia memperoleh laba bersih Rp200-juta. Dari rupiah asal buah itu Eddy membeli lahan seluas 3.000 m2 di Parung, Bogor, untuk kebun produksi. Di sana ratusan bibit terhampar dan siap dikirim ke pembeli di Medan, Padang, Riau, hingga ke Papua. Rata-rata sirkulasi bibit per bulan mencapai 750 buah. Maka dari penangkar kakilima, Eddy jadi juragan bibit.

Doktor bibit

Yang juga mendapat berkah dari bibit ialah Lutfi Bansir. Kelahiran Tanjung Selor itu sejatinya berstatus pegawai negeri sipil di Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Sehari-hari sepulang kantor Lutfi sibuk di kebun bibit miliknya seluas 2,7 ha. Di kebun itu Lutfi membesarkan durian, jambu air, mangga, lengkeng, dan srikaya sebagai pohon induk.

Buah memang jadi dunia ayah 2 anak itu. Total jenderal ia menanam 30 varietas jambu air, 20 varietas durian, 4 varietas lengkeng, 7 varietas silangan nangka dan campedak, 8 varietas jambu, dan 5 varietas rambutan. Itu hasil perburuan ke berbagai daerah dan negara selama 4 tahun terakhir. Dari Kinibalu, Malaysia, misalnya Lutfi mendapat 7 jenis jambu air. Sebut saja madu merah dan madu hijau. Dari Thailand didapat varian citra-thab thin chan.

Di kebun, tanaman itu diperbanyak. Jenis introduksi dan unggul membuat bibit itu menjadi buruan pembeli dari Tarakan, Jakarta, Malang, dan Surabaya. Pantas bila rupiah pun direngkuhnya. Setiap bulan dari perniagaan itu diperoleh Rp6-juta-Rp12-juta. Laba dari buah itulah yang dipakai Lutfi untuk bolak-balik Bulungan-Malang.

Di Malang, master budidaya pertanian itu tengah mengejar gelar doktor dari Universitas Brawijaya-kesempatan yang datang dari Bupati Bulungan karena Lutfi intens mengembangkan bibit buah. Ketika akhir pekan tiba ia kembali ke Bulungan untuk mengontrol kebun.

Di Malang pula, bersama Prof Ir Sumeru Ashari MAgr Sc PhD, guru besar hortikultura dari Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Lutfi menyeleksi 8 durian unggul dari 3.000 durian di Kasembon, Malang. Itulah salah satu bibit andalan yang bakal dikembangkan. ‘Nantinya saya betul-betul jadi doktor bibit. Diberi kesempatan karena bibit dan dibiayai oleh bibit,’ kata Lutfi . Maka buat Eddy dan Lutfi tiada waktu tanpa bibit. (Destika Cahyana/Peliput: Ari Chaidir)

http://www.trubus-online.co.id
Dipublikasi di Uncategorized | Tag | 3 Komentar

Tabulampot Lengkeng (2)

tabulampot kelengkeng 2

Cara Menanam di Pot
Menanam lengkeng di pot tentu berbeda caranya dibanding menanamnya di atas tanah halaman atau kebun. Butuh trik tersendiri untuk menanam dalam pot agar tanaman tumbuh subur, meski media tanam dan haranya terbatas.

Caranya, letakkan styrofoam setebal 5 cm di bagian dasar pot, mengikuti bentuk pot. Pecahan genting atau batu bata juga bisa menggantikan styrofoam, tapi akan membuat pot lebih berat. Pemasangan ini bertujuan agar air yang disiramkan bisa turun dan keluar dari pot.

“Kalau airnya banyak enggak keluar, pertumbuhan pohon jadi enggak maksimal. Sebab, di situ kan, ada cacingnya juga. Media tanam yang enggak tepat juga bisa membuat pohon tidak tumbuh baik,” jelas Tardi. Di atas styrofoam, masukkan campuran tanah, pupuk kandang dan pasir, atau serutan kayu dengan perbandingan 2:1:1.

Tinggi campuran tanah ini sekitar 20 cm. Masukkan pohon lengkeng, lalu masukkan campuran tanah, pupuk, dan serutan kayu atau sekam sebagai penutup. Terakhir, siram pohon sampai air keluar dari bagian bawah pot.

Untuk perawatan selanjutnya, cukup siram pohon dua hari sekali dan lakukan pemangkasan cabang serta buah. Tardi menambahkan, pohon lengkeng bisa langsung dipindahkan ke pot tanpa harus diaklimatisasi alias disesuaikan dulu dengan cuaca di tempat tanamnya.

Soal wadah yang dipilih untuk menanam, bisa tergantung selera. Drum yang dibelah lebih awet selama lima tahun sebagai pot. Namun, pot plastik diameter 70 cm pun boleh. Hanya saja, lebih mudah pecah.

Untuk menghindari hama lengkeng yaitu kutu putih, tutup buah dengan keranjang anyaman bambu. Untuk menghilangkan kutu, semprot dengan insektisida atau sikat daun yang terkena kutu dengan sikat gigi. Bila daun yang terkena cukup banyak, rontokkan daun agar segera tumbuh daun baru.

Agar Berbuah Lebat

1. Memangkas
Saat tajuk pertama muncul, disarankan untuk dipangkas agar buah yang dihasilkan bisa rindang alias tidak tinggi.

2. Menyiram
Cara menyiram harus benar, karena volume media tanamnya tak banyak. Jadi, dua hari sekali harus disiram sampai airnya keluar meluber dari pot bagian bawah.

3. Pupuk
Selalu gunakan pupuk kandang, agar hasilnya lebih baik dan pohon tumbuh subur. Untuk tabulampot, setiap 3 bulan sekali (minimal 6 bulan sekali) ambil separuh tanah yang jadi media tanamnya, masukkan pupuk kandang ke dalam pot dan tutup lagi dengan sedikit tanah. Siram dengan air sampai tanah benar-benar basah.

Cara ini akan membuat daun muda cepat tumbuh, sehingga cepat berbunga. Pupuk kimia seperti NPK boleh digunakan, tapi cukup sedikit saja, sebulan sekali. Penggunaan potasium klorat yang dikenal sebagai bahan peledak juga bisa digunakan untuk merangsang pertumbuhan bunga, walaupun lengkeng sebetulnya tetap bisa berbuah tanpa harus dirangsang. Penggunaan pupuk kimia justru membuat tanah jadi keras.

4. Perontokan
Umumnya, lengkeng pada pembuahan pertama dagingnya kurang tebal. Ketebalan daging baru bisa dilihat setelah lengkeng 2-3 kali berbuah. Agar mendapatkan buah yang maksimal, rontokkan bunga yang pertama kali muncul. Sehingga, cabang akan bertambah dan bunga akan makin banyak. Bila bunga kedua sudah muncul tapi cabang belum ada, bunga bisa kembali dirontokkan.

5. Ganti Media
Masa produktif tabulampot lengkeng adalah usia 3 – 10 tahun. Agar tetap produktif selama masa itu, setidaknya setahun sekali ganti media tanamnya agar tidak keras, atau beri pupuk kandang.

6. Cangkok
Tabulampot yang sudah tinggi dan besar bisa dicangkok untuk dijadikan beberapa tanaman baru. Sehingga cabang yang tumbuh tak akan besar, karena bagian atasnya sudah dipangkas dan pohon jadi rimbun.

Hasuna
Dipublikasi di Kelengkeng | Tag | Tinggalkan komentar

Tabulampot Lengkeng

tabulampot kelengkeng

Menanam lengkeng dalam pot? Mengapa tidak! Lengkeng sekarang sudah “modern”, sudah bisa berbuah meski tinggi pohon cuma dua jengkal.

Aturan” yang menyebutkan perlunya pohon lengkeng berjenis kelamin sepasang – laki-laki dan perempuan – agar si pohon bisa berbuah, kini tak berlaku lagi. Penantian bertahun-tahun yang dulu dilakukan agar si mata naga ini bisa dipetik dan dirasakan manisnya, juga sirna.

Kini, berkat kemajuan di dunia pertanian, buah lengkeng sudah bisa berbuah meski pohon terbilang masih pendek. “Lengkeng sekarang sudah modern,” ujar Sutardi, pemilik Bimo Nursery di kawasan Tangerang. Maka, bila Anda penggemar buah bulat yang manis ini, tak perlu pusing bila hanya punya lahan sempit di rumah.

Menanam lengkeng dalam pot kini menjadi pilihan banyak orang. Meski hasilnya memang tak sebaik bila ditanam di tanah yang memiliki jumlah hara lebih banyak, bukan berarti tabulampot (tanaman buah dalam pot) lengkeng yang kini jadi tren tak berbuah maksimal, lho!

Selain daunnya bisa rimbun, tabulampot lengkeng juga bisa berbuah banyak. Jenis pingpong, misalnya, meski tingginya hanya dua jengkal orang dewasa, sudah bisa berbuah, karena memang sifat pohonnya yang sudah mampu berbuah sejak kecil.

Hanya saja, jumlah buahnya memang lebih sedikit bila pohonnya masih kecil. Makin besar pohon, makin banyak buahnya. Namun, ukuran buah relatif tak jauh berbeda. Kecil atau besarnya buah tergantung dari banyaknya buah dalam satu pohon. Jika dalam pot berat buah sudah lebih dari 10 kg, ukuran buahnya akan kecil.

“Jadi, jumlah buah untuk tabulampot umumnya diperjarang, agar ukurannya membesar. Kalau tidak, ukuran buah jadi tidak maksimal,” papar Tardi sambil menambahkan, selain memperjarang buah, memangkas cabang yang tak perlu juga harus dilakukan agar pohon tumbuh maksimal.
Pingpong Jadi Idola
Benarkah lengkeng hanya bisa tumbuh subur di kawasan dataran tinggi? “Enggak, kok, lengkeng zaman sekarang cocok saja

Foto: Daniel Supriyono/Nova

ditanam di dataran rendah maupun tinggi. Tapi memang, sih, di daerah yang sejuk akan lebih bagus tumbuhnya,“ papar Tardi.

Lengkeng juga, lanjutnya, tak perlu ditanam sepasang (berjenis kelamin laki-laki dan perempuan) seperti pada zaman nenek moyang dulu agar bisa berbuah. Untuk bisa berbuah, jenis-jenis lengkeng masa kini yang kebanyakan dari Thailand cukup membutuhkan satu pohon saja, dan tak perlu tumbuh tinggi.

Lengkeng juga punya banyak jenis, baik lokal maupun impor. Menurut Tardi, semua jenis lengkeng umumnya bisa ditanam dalam pot. Beberapa jenis di antaranya, diamond river, itoh, kristal, pingpong, puang rai, dan lengkeng aroma durian.

Kebanyakan bibitnya berasal dari Thailand. Diamond river memiliki daun berwarna hijau cerah dengan panjang 10 cm, buahnya berdaging tebal, berair, biji kecil dan beraroma. Jenis itoh yang ukuran buahnya sebesar uang logam Rp 500 memiliki ciri buah mirip diamond river, tapi ukuran daunnya sekitar dua kali panjangnya.

Daun kristal mirip dengan daun itoh, berwarna hijau muda dan kurus, dengan buah berdaging setebal 4-5 mm, kering, kenyal, dan sangat manis. Yang kini sedang jadi “idola” dan paling banyak dicari adalah jenis pingpong, dengan daun berbentuk oval dan melengkung ke bawah, warna daun lebih gelap dibanding diamond river.

Sesuai namanya, jenis ini menghasilkan buah berukuran sebesar bola pingpong, dengan daging tipis, biji besar, kering, dan beraroma. “Semua lengkeng pasti manis. Tapi, manis atau tidaknya buah biasanya tergantung curah hujan. Makin banyak curah hujan, manisnya berkurang,” papar Tardi, seraya mengatakan, lengkeng impor banyak juga yang dikawinsilangkan oleh petani lokal, sehingga menghasilkan jenis baru.

Semakin besar pohon, semakin banyak buah yang dihasilkannya. Itu pula penyebab makin tinggi pohonnya, makin mahal harganya. Pohon setinggi 1 meter harganya mulai Rp 300 ribu, sedangkan yang tingginya 2 meter harganya mulai Rp 600 ribu. Lengkeng jenis diamond river dan lainnya relatif lebih murah, sekitar separuh harga jenis pingpong.

Bila diamond river dan jenis-jenis lain dengan ketinggian pohon 50 – 70 cm dijual dengan harga sekitar Rp 45 ribu, harga jenis pingpong sekitar Rp 70 ribu. Sedangkan lengkeng rasa durian harganya bisa mencapai dua kali lipat dari pingpong.

Lengkeng “modern” yang perawatannya tidak sulit, menurut Tardi, tak kenal musim panen. Setiap selesai dipanen, pohon langsung siap berbunga. “Tiga bulan sekali berbuah. Kalau sekarang panen, bulan berikutnya tumbuh daun dan berbunga lagi. Jadi, sepanjang tahun bisa berbuah,” jelasnya lagi. Yang penting, imbuhnya, cara penyiraman harus benar, agar daun tak rontok dan berwarna kuning.

Usia 2 – 3 bulan atau pohon setinggi sejengkal tangan orang dewasa, lengkeng sudah bisa berbuah, meski buahnya tak banyak dan belum besar. Tabulampot lengkeng setinggi 1,5 m dan bercabang banyak yang ditanam dalam drum bisa menghasilkan 5 – 8 kg buah dalam sekali panen.

Mungkinkah lengkeng mogok berbuah? “Ya, mungkin saja. Penyebabnya bisa karena terlalu gemuk atau rindang. Cara mengatasinya, pangkas saja cabang-cabang yang tidak perlu,” pungkas Tardi.

Hasuna Daylailatu

Dipublikasi di Kelengkeng | Tag | Tinggalkan komentar

Penjualan Bibit Kelengkeng di Semarang Melonjak

Penjualan bibit buah kelengkeng di beberapa pusat penjualan bibit buah di Kabupaten Semarang melonjak sejak awal tahun 2007. Hal ini disebabkan masyarakat mulai mengenal beberapa varietas bibit kelengkeng asal Vietnam yang dikembangkan di Indonesia dan berbuah lebih cepat.

Di Bangkit Tani Argo Centre, misalnya, rata-rata penjualan bibit kelengkeng per bulan bisa naik 50 persen dari tahun 2006 berkisar 100-125 bibit. Harga jual bibit kelengkeng ini termasuk tinggi, Rp 75.000 setiap satu bibit di kantong plastik berdiameter 30 sentimeter. Bibit Kelengkeng yang diminati ini ialah hasil budidaya varietas asal Vietnam, seperti kelengkeng ping-pong, diamond river, itoh, dan kristal.

Pengelola Bangkit Tani Haryono, Minggu (15/4), mengatakan, lonjakan penjualan ini disebabkan pemikiran bahwa kelengkeng sulit ditanam selain di tempat asalnya dan lama berbuah sudah mulai memudar.

Kelengkeng ping-pong, diamond river, dan itoh termasuk cepat berbuah. Kelengkeng varietas ini umumnya berbuah setelah dua tahun, sedangkan kelengkeng lokal empat tahun.

“Bibit kelengkeng potensial untuk dikembangkan karena peminatnya banyak dan harga jualnya masih tinggi,” kata dia. Sementara itu, di Penjualan Bibit Hortimart, kelengkeng juga banyak diminati. “Kami punya indukan kelengkeng. Akan tetapi, kami masih terus mengembangkan indukan untuk beberapa jenis buah yang lain,” kata Staf Penjualan Hortimart, Yuni. (AB1)

SEMARANG, KOMPAS
Dipublikasi di Kelengkeng | Tag | Tinggalkan komentar

Wow, Bibit Kelengkeng Bisa Hasilkan Puluhan Juta Sebulan

kelengkeng-pingpong

Kelengkeng Pingpong berasal dari dataran Sungai Mekong, Vietnam. Kelengkeng jenis ini memang belum sepopuler kelengkeng lokal. Namun, mulai banyak yang membudidayakannya. Maklum, keuntungannya lumayan.

Kelengkeng pingpong memang agak beda dari kelengkeng biasa. Besar buahnya empat kali lipat kelengkeng lokal. Bijinya juga tentu lebih besar, tapi dagmg buahnya tebal dan beraroma wangi. Buah ini juga masih jarang mejeng di pasar kita. Sebab, memang belum banyak petani kita yang membudidayakan Kelengkeng Pingpong ini.

Kelengkeng Pingpong merupakan tanaman tropic yang tumbuh subur di tanah berketinggian 500 meter di atas permukaan laut (dpl).

Umumnya, di Indonesia, Kelengkeng Pingpong menjadi buruan para hobiis. Salah seorang pembudidaya Kelengkeng Pingpong adalah Isto Suwarno. Awalnya, pada 1998, Isto mendapat sejumlah biji Kelengkeng Pingpong dari adiknya. la lantas menyebar biji-biji itu. Ternyata, tak susah membudidayakan kelengkeng jenis ini. Dari sini, budidaya kelengkeng milik Isto berkembang.

Isto lantas mencoba menawarkannya ke sejumlah kolega dan para pehobi tanaman. Tak dinyana, sambutannya antusias. Pada 2005, ia resmi menjual bibit kelengkeng di bawah bendera Telaga Nursery Prambanan. Isto mengaku,langsung kebanjiran order. Padahal, ia hanya menjadikan buah kelengkeng sebagai sampel bagi yang ingin membeli bibit.

Setiap bulan, Isto bisa menjual 7.500 bibit kelengkeng, baik dari biji ataupun okulasi. la menjual bibit biji ukuran 15 centimeter (cm) sampai 20 cm dengan harga Rp 20.000 per batang. Adapun bibit okulasi ukuran 60 cm dia lepas dengan harga Rp 40.000. “Saya juga melayani pembelian tanaman dalam pot mulai harga Rp 1,5 juta per pot sampai Rp 2,5 juta,” ujarnya.

Dalam sebulan, Isto bisa meraup penghasilan Rp 30 juta. Bisa lebih, jika ada pesanan bibit jumlah besar.

Permintaan bibit kelengkeng cukup tinggi lantaran tanaman ini mudah dibudidayakan, baik di lahan sempit atau di pot sekalipun, asal terkena sinar matahari. “Perawatannya mudah dan hamanya sedikit,” kata Isto. Tanaman ini bisa dibudidayakan dari biji, bibit, dan bibit okulasi.

Untuk menanam kelengkeng Pingpong, pertama-tama masukkan bibit ke pot atau lubang di tanah. Ukurannya harus sesuai besaran tanaman. Sebagai media tanam, campurkan tanah, sekam, dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1:1. Dalam setahun, sebaiknya beri tiga kali pupuk. Saat kemarau, setidaknya disiram air dua hari sekali. Dalam 1,5 tahun, pohon ini sudah berbuah. (Kontan/Aprillia Ika)

kompas.com
Dipublikasi di Kelengkeng | Tag , | Tinggalkan komentar

Kelengkeng Pingpong, Hobi atau Komoditi?

kelengkeng-pingpong

Kelengkeng pingpong merupakan saudara dekat kelengkeng jenis Diamond River. Kelengkeng jenis ini merupakan jenis tanaman tropis yang tumbuh subur di tanah berketinggian 500 di bawah permukaan laut.

Lantaran baru tahun 2005 kelengkeng ini mulai diperkenalkan ke masyarakat umum, para hobiis memburu tanaman ini sebagai tanaman hobi. Sementara beberapa pembeli bibit lainnya sedang mengusahakan terbentuknya sentra perkebunan kelengkeng pingpong. Sehingga, buahnya belum banyak tersedia di pasaran.

Salah satu pembudidaya kelengkeng pingpong adalah Isto Suwarno. Pria yang sehari-hari bekerja di objek taman wisata candi Borobudur ini sejak tahun 1998 sudah membudidayakan kelengkeng pingpong dibawah bendera Telaga Nursery Prambanan.

Isto mengaku, kebanjiran order bibit kelengkeng pingpong setiap bulannya. Sementara untuk buahnya, dijadikan sampel saja bagi siapa pun yang ingin membeli bibit kelengkeng miliknya.

Setiap bulan, Isto bisa menjual 7.500 bibit kelengkeng baik dari biji ataupun okulasi. Bibit biji ukuran 15 cm sampai 20 cm dijualnya dengan harga Rp 20.000 per batang. Sementara bibit okulasi dijualnya seharga Rp 40.000 untuk ukuran 60 cm. “Saya juga melayani pembelian tanaman dalam pot mulai harga Rp 1,5 juta per pot sampai Rp 2,5 juta untuk yang ukuran 3 meter,” ujarnya.

Dalam sebulan, Isto bisa meraup penghasilan Rp 30 juta. Bahkan lebih jika ada pesanan bibit dalam jumlah sangat besar. “Kemarin ada yang ambil 10.000 bibit sekaligus,” ujarnya senang. Isto tak lupa mencatat dalam bukunya semua pembeli kelengkeng budi dayanya. “Dari Januari 2005 sampai sekarang sudah ada 10.000 orang yang ambil bibit saya,” lanjutnya sumringah.

Besarnya permintaan kelengkeng pingpong lantaran tanaman ini mudah dibudidayakan baik di lahan sempit atau di pot sekalipun. Asal terkena sinar matahari. “Perawatannya mudah dan hamanya sedikit,” lanjut Isto. Tanaman ini bisa dibudidayakan dari biji, bibit dan bibit okulasi. “Rata-rata orang menyukai bibit okulasi karena masa panen hanya 1,5 tahun. Sementara benih biasa sampai 2,5 tahun baru panen,” ujarnya.

Untuk menanam kelengkeng pingpong, pertama-tama bibit dimasukkan ke dalam pot atau lubang di tanah. besaran pot dan tanah harus sesuai besaran tanaman. Untuk media tanamnya, campur tanah, sekam dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1:1. Dalam setahun, sebaiknya tanaman ini diberi campuran tanah, pupuk kandang dan sekam selama tiga kali. Pada musim kemarau, setidaknya disiram air dua hari sekali.

Yang perlu diperhatikan, adalah pemangkasan batang agar tanaman ini tidak terlalu menjulang. Misalnya ketika tanaman sudah mencapai tinggi 1,25 meter, pangkas 0,25 meter tersebut. Setiap satu kali pemangkasan batang bakal tumbuh tiga tunas batang baru. Demikian seterusnya. Menurut Isto, semakin banyak cabang batang yang tumbuh maka buah bakal semakin banyak dan daunnya semakin rimbun.

Salah satu hama yang harus dihindari adalah codot. Yaitu sejenis kelelawar pemakan buah. Untuk menghindari codot, gerombol buah harus ditutup kresek putih yang telah dilubangi.

Buah kelengkeng asal sungai Mekong ini besar, dan daging buahnya tebal dengan aroma wangi. Sayangnya, biji buahnya juga besar. Buahnya bakal banyak di musim kemarau, namun susut di musim hujan. Panenan kelengkeng pingpong bisa dua kali dalam setahun.

Aprillia Ika
http://www.kontan.co.id/
Dipublikasi di Kelengkeng | Tag | Tinggalkan komentar